Yuldiais's Blog

Take the silver line of life

Kenapa kita buru-buru…?

on October 12, 2010

Pernah nyoba makan dengan gerakan slow banget, cukup slow, dan cepet…? ato makan kacang dengan sejumlah biji kacang  yang ada di genggaman tangan kita lalu langsung kita masukkan ke dalam mulut, dengan makan biji kacang satu demi satu..? ato ngomong dengan kecepatan tinggi, sedang, dan lambat…? ato jalan kaki dengan jalan cepat, sedang, atau lambat..? enakan mana..?

Aku kepikiran, knp ya banyak diantara kita yang gerakan salatnya cepet atau bahkan terkesan buru-buru..? nunjukin banget klo ngejalanin salatnya gak seneng, gak betah, gak ikhlas, dan gak menikmati salat. Bahkan ada yang bilang gerakan salat kita seperti ayam matuk-matuk. Gak kebayang tuh, kalo salatnya cepet, gimana dengan bacaannya ya…? kan bahasa arab itu ada aturannya, panjang pendek mempengaruhi arti, kalo artinya keliru, maka hasilnya juga keliru. Alih-alih fungsi salat sebagai pencegah kemungkaran malah bisa jadi menjadi kemungkaran karena bacaannya itu yang keliru. hmmm….mungkin ini kali ya knp kita salat tapi belum mampu menjadikan salat kita sebagai benteng iman kita dari kemungkaran..?

Masih dengan pertanyaan “kenapa” dalam benakku, sebagian ruang dalam otakku mencoba mencari jawabannya. Entah, seperti ada yang berpendapat di otakku klo jwabannya itu karena sejak kecil kita belajar salatnya gak serius, main-main, dan penuh canda. Coba yuk kita  ingat-ingat lagi, dulu waktu kita  belajar salat, selalu saja kan temen kita atau bahkan kita sendiri ngegodain temen kalo lagi salat seperti melorotin sarung atau muken bawahan lalu kita lari dan tertawa-tawa. Ada lagi ulah kita yang menertawakan salat temen salat, atau nyenggol-nyenggol saat salat, atau sengaja ngeliatin berlama-lama wajah teman kita yang lagi salat, dan entah kenapa digituin aja ko kita tertawa ya…? padahal kalo diliat sekarang, apanya yang lucu…? ya begitu mungkin kerjaan syaitan, menjadikan apapun terjadi demi rusaknya salat yang sedang kita tunaikan.

Berinjak remaja, secara psikologis kita mulai senang dengan segala sesuatu di luar diri kita seperti tertarik dengan lawan jenis, main ke sana sini bareng temen-temen, nyoba aktivitas ini itu, dan segala hal yang tidak melibatkan keluarga kita, walhasil kita lebih merasa nyaman dengan orang-orang di luar keluarga kita. Kita larut dalam keasikan, bahkan demi mendapatkan pengakuan dari teman-teman dekat, kita rela berkorban untuk mendapatkannya. Segalanya demi persahabatan, segalanya demi pertemanan, segalanya demi pengakuan menjadi teman, ya…namanya juga pencarian jati diri. Kita asik dengan hal-hal yang mendukung kita agar bisa diterima lingkungan dan kita mulai mengabaikan hal-hal yang sebetulnya untuk kebaikan kita sendiri.

Aaawww….sebetulnya pegen panjang lebar nulisnya..tapi ya sudah deh, intinya saja. Kebiasaan apapun yang sekarang melekat pada diri kita adalah hasil kebiasaan yang ditanam dan dipupuk sejak kita kecil. Masa kecil adalah masa penanaman nilai-nilai, dan masa usia 0-3 tahun adalah masa terbaik spanjang hidup kita, itulah masa golden age. Kebiasaan yang sudah mendarah daging akhirnya menjadi karakter kita, dan klo udah menjadi karakter, memang sulit merubahnya. Tapi sulit bukan berarti gak bisa. Sulit hanya tantangan bagi mereka yang punya tujuan/keinginan. Kalo kita punya tujuan, maka diberi tantangan. Seperti saat sekolah, kita punya tujuan (keinginan) lulus, maka pihak sekolah memberikan tantangan berupa ujian tulis, kontennya banyak yang sulit, tapi bukan berarti kita gak bisa kan…? buktinya hal-hal yang sulit mampu sudah kita lewati.

Nah, untuk merasakan kenikmatan dalam salat, yyyaaa….kudu belajar!!! Kata ustadz-ustadz, kalo kita ingin merasakan kenikmatan iman, maka kita kudu menambah ilmu kita, lalu mempraktekannya, membantu orang lain, menjadi bermanfaat bagi orang lain, berbagi dengan sesama, dan yang penting berdoa pada Allah minta hidayah untuk memahami agama dan mudah menjalankannya. Ayo, sama-sama kita belajar. Jangan ditarget dalam satu bulan harus bisa khusyuk, waw…berattt!! karena kalo udah satu bulan kita gak berhasil, maka kita kan kecewa berattt,,lalu kita tinggalin deh belajar nya. hhhhuuu….loser!

Berpikirnya, belajar itu sepanjang hidup,,, yang menjadi target itu peningkatan kualitas hasil belajar kita dengan terus memupuk target waktunya. Karena target itu ada beberapa jenis, ada target waktu, target jumlah, target,,,eehmm….apalagi ya? o..ow,aku belum tau. Yang aku tau,

perbanyak kuantitas nanti kualitas akan mengikuti.

Nah,,kalo sekarang kita sudah perbanyak kuantitas salat, sekarang saatnya belajar kualitas salat. hmm….spertinya belum tersampaikan deh inti dari jawaban pikiranku. Ya sudahlah, namanya juga belajar. Selama terus bergerak dan rileks, insya Allah bisa menembus batas!!🙂

Yuk kita salat berkualitas demi hidup yang jauh berkualitassss!!!😀


2 responses to “Kenapa kita buru-buru…?

  1. yuldiais says:

    ok Bu Psikolog!🙂 brarti kita ralat juga tuch artikel2 yg ditulis di majalah, internet, atopun yg dibacain sama penyiar radio,,, kata mereka 0-3 yg paling utamanya, bahkan ada jg tuh yg sampe 8 thn. Ga tau deh mana yg bener… yow,krn ada Bu Psikolog, jd kite ikut aje deh…🙂

  2. dali_gladiolus says:

    hm.. rada terganggu.. hehe.. ralat: golden age itu 0-5thn..
    mari dirikan shalat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: