Yuldiais's Blog

Take the silver line of life

Perjalananku Menjadi Guru

on August 20, 2012

Tidak pernah aku rencanakan sebelumnya menjadi seorang guru, apalagi guru SD. Boro-boro, selama kuliah aku jarang sekali berinteraksi dengan anak-anak meski aku aktif di organisasi pembinaan remaja. Bagiku, menghadapi anak-anak adalah hal yang sulit karena mereka memiliki bahasa tersendiri, hal ini sangat berbeda dengan dunia remaja yang memiliki lumayan banyak kesamaan dengan dunia dewasa. Ditambah lagi sifatku yang tegas, membuatku semakin kaku berhadapan dengan anak-anak.

Berkecimpung di dunia anak-anak mengharuskan diri untuk bersikap luwes, karena keluwesan itulah yang menjadi kunci utama agar tercipta suasana akrab dan menyenangkan. Ketertarikanku terhadap dunia pendidikan formal berawal dari sebuah “kecelakaan” saat aku bekerja di Bandung. Saat itu ada sebuah kampus yang tengah dalam kondisi kritis antara tutup atau terus bangkit membutuhkan seorang dosen bahasa inggris. Sebuah kampus yang pada era 90-an pernah berjaya karena lulusannya banyak diterima di perusahaan-perusahaan terkemuka. Sebuah kampus yang terletak di kawasan Dago dan berkonsentrasi dalam bidang teknologi.

Salah seorang mahasiswanya yang baru saja lulus saat itu menawariku sebuah lowongan untuk posisi dosen bahasa inggris di kampus tersebut. Dia memintaku membuat surat lamaran yang ditujukan untuk ketua jurusannya. Entah energi darimana aku mengikuti permintaan mahasiswa tersebut. Tidak lama kemudian aku mendapatkan kabar bahwa aku diterima menjadi dosen bahasa inggris.

Aku kaget, senang bercampur tidak percaya, karena aku bukan sarjana  bahasa inggris melainkan seorang sarjana Biologi non-kependidikan di sebuah PTN di Bandung, namun aku memang memiliki minat yang tinggi dengan bahasa inggris. Dengan tidak banyak pertimbangan, akhirnya aku teruskan untuk mengajar di kampus tersebut.

Wow…benar2, inilah pertama kalinya aku merasakan menjadi seorang dosen, meski bukanlah dosen yang sesungguhnya karena secara administrasi aku tidak bisa menjadi dosen “beneran”. Sekali lagi, aku bilang ini “kecelakaan” karena kampus tersebut tengah terdesak dengan kondisi yang tidak menentu. Selama satu semester aku mengajar bahasa inggris untuk jurusan Teknik Informatika dan Teknik Elektro, selain itu aku juga tetap bekerja di tempatku bekerja. Selama mengajar, aku sering bertanya pada diriku, “benarkah jalan ini yang aku inginkan..?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuatku gundah.

“Kecelakaan” ini yang membukakan jalan pikiranku akan masa depanku, mau dilanjut atau mau  yang lebih dari sekedar ini. Selama satu semester itu pula aku mulai istikharah mengenai kehidupanku. Setelah mengumpulkan nilai akhir mahasiswa ke jurusan, aku memutuskan untuk berhenti mengajar di sana, selain aku merasa aku “tidak sah” sebagai dosen, aku juga mulai berpikir apakah aku akan menghabiskan waktuku di sana dengan seperti ini..? Akhirnya aku putuskan untuk keluar dan bekerja hanya pada satu kerjaan yaitu di perusahaan tempatku bekerja.

Setelah keputusan itu, sehari-hari yang ada dalam benakku adalah “setelah ini ngapain, jadi apa?”. Sholat istikharah tetap terus aku lakukan sehingga membuatku semakin bimbang, puncaknya saat ramadhan di tahun itu, 2010, kebimbanganku seakan ingin meledak. Aku sudah bosan di Bandung. Hehe… ku coba mencari jawaban Sang Ilahi dengan sharing kegundahan hati kepada para orang-orang yang aku nilai memiliki jiwa yang bijak.

Libur lebaran, aku mudik pulang kampung. Aku tatap wajah Ayah dan Ibuku. Aku mulai berpikir, aku sudah “meninggalkan” mereka selama 7 tahun, dan sepertinya peninggalanku itu tidak menghasilkan apa-apa. Aku belum pernah membalas jasa baik mereka meski hanya dengan memberikan sebagian penghasilanku pada mereka. Hhhahh…durhakanya aku menjadi anak. Astaghfirullahal’adzim.

Sepulangnya dari mudik lebaran, saat kembali ke kantor, aku putuskan kepada pihak manajemen untuk resign. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap di Bandung. Aku ingin kembali ke pangkuan Ayah dan Ibuku, ingin membaktikan diri kepada mereka.

Selepas resign dari kantor dan kembali ke kampung halaman, hati dan pikiranku benar-benar merasa legaaaa..😀 aku merasa seperti anak kecil yang baru bertemu dengan orang tuanya lagi. Hampir dua bulan aku menikmati kesendirianku dan terus mencari pekerjaan baru yang cocok denganku. Selalu, sebelum mengambil keputusan hidup, aku selalu melibatkan Allah dalam langkahku. Istikharah terus aku lakukan sambil aku terus mengirim lamaran pekerjaan. Aku coba melamar ke berbagai bidang yang aku minati seperti guru, hrd, dan marketing.

Dari tiga bidang tersebut, panggilan sebagai guru adalah panggilan yang paling cepat yang datang padaku. Alhamdulillah tidak sampai dua bulan setelah aku resign dari kantor, aku telah mendapatkan pekerjaan pengganti, dan Subhanallah pekerjaanku sekarang ini benar-benar luar biasa indahnya..🙂

Allah menempatkanku di sebuah sekolah Islam International di kawasan Jakarta timur. Jarak sekolah dengan rumah berkisar 5 km dan durasi ke sekolah bila lancar sekitar 15-20 menit. Rute yang aku tempuh adalah lewat jalan dalam perumahan-kampung, bukan jalan raya sehingga aku tidak menemukan lampu merah, keramaian dan juga polisi kecuali polisi tidur dan jalanan yang sedikit hancur. Hehe…😛

Salah satu poin yang aku panjatkan dalam istikharahku adalah aku ingin memiliki pekerjaan yang membuatku semakin bersyukur kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. Alhamdulillahirobbil’alamiin.. terimakasih banyak ya Allah atas rizkiMu ini..🙂

“maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?” QS.Ar-Rahman


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: