Yuldiais's Blog

Take the silver line of life

Susi Pijiastuti : Tamatan SMP Jadi Juragan Pesawat

on August 22, 2012

Cleopatra)-Mungkin tokoh yang satu ini dapat menginspirasi  semua, bahwa jenjang pendidikan tidak menentukan keberhasilan seseorang, justru keterampilan dan keuletan yang membuat seseorang berhasil.

KERUT diwajahnya bisa menggambarkan betapa keras jalur hidup ditempuh perempuan paruh buaya ini. Susi Pujiastuti, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965, memang contoh entrepreneur tulen, merangkak benar-benar dari bawah sebagai pedagang ikan hingga sukses dengan aset ratusan miliar rupiah.

Mengaku asli Jawa, memang fasih berbahasa Jawa. Hanya saja karena bertahun-tahun membangun bisnis di kawasan Pangandaran, ia juga luwes berbahasa Sunda.Perjalanan kemudian, karena sering melayani pelanggan manca negara, bahkan mengemudikan sendiri pesawat terbangnya, iapun fasih pula berbahasa Inggris.

Tetapi siapa sangka jika wanita berkulit gelap itu sekadar tamatan SMP dengan ke sehariannya berprofesi sebagai pedagang ikan laut. Itulah dia Susi Pudjiastuti,  Presiden direktur PT ASI Pudjiastuti  Marine Product yang bergerak dibidang bisnis perikanan dan Susi Air maskapai sewa dengan 49 unit berbagai jenis, diantaranya Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, dan Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti Papua dan Kalimantan.

Susi didaulat sebagai pembicara dalam seminar dengan tema “Preparing Pattern of Indonesia’S Future Women Leader and Entrepneur” di kantor  Kementerian Pekerjaan Umum, yang diselenggarakan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, kemarin, Rabu (18/4).

Dia pun menuturkan perjalanan hidupnya hingga kini berada di jenjang kesuksesan sebagai wanita karier dan sukses pula dlam membangun rumah tangga.  Dia masih ingat  pesan yang pernah disampaikan Presiden RI Soekarno, Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit. Sejak kecil, Susi sudah menyukai ungkapan itu. Belakangan Susi tahu, kata-kata itu adalah salah satu ucapan Bung Karno di buku Sarinah. Kata-kata mutiara itu mendekam di hati, ibarat sihir kehidupan bagi Susi.  “Ada cita-cita saya lainnya ketika kecil, yakni ingin jadi ahli oceanologi, ahli bidang ilmu kelautan!” ungkapnya.

Susi sendiri bisa jadi cuma menganggap cita-citanya saat kecil itu sebagai gumaman seorang anak. Buktinya, saat remaja, ia mesti balik kampung meninggalkan Yogyakarta– dengan kepala benjol. Apa yang bisa dilakukan seorang gadis remaja yang cuma drop out SMA? Leyeh-leyeh di rumah menikmati segala fasilitas orang tua? “Itu bukan watak saya!” kata Susi, tegas. Pergi ke kota untuk bekerja di pabrik-pabrik, seperti banyak dilakukan teman-temannya? Susi bilang, “Emoh (tidak mau) aku….”

Susi ingat, masa-masa di SMP di kampungnya, ataupun semasa SMA di Yogyakarta, dia suka dagang kecil-kecilan antarteman. Kadang-kadang ia membeli baju atau T-shirt untuk dijual kepada teman. “Jualan kaus golput pun pernah,” katanya, tertawa.

Jadi pedagang, inilah ‘peluang kerja’ yang disasar Susi untuk hari depan. Ia melihat, kampungnya, khususnya di pesisir pantai, kian berkembang sebagai daerah tujuan wisata. Hotel-hotel tumbuh menjamur. “Saya ambil bed cover dan sarung bantal dari kenalan di Yogyakarta, dan menawarkannya ke hotel-hotel yang ada. Lumayan susah meyakinkan pemilik hotel untuk membeli dagangan saya,” ungkap Susi, tentang masa-masa remajanya yang penuh kerja keras itu.

Cita-cita Setinggi Langit

Sebetulnya, Susi tak harus susah. Kalaupun ia tak bekerja, ia masih bisa makan enak di rumah orang tuanya. “Tetapi, tak bisa kan kita terus-menerus menyusu pada orang tua? Hewan saja mengajarkan pada kita, bahwa setelah dewasa ia tak lagi menyusu, dan mencari makannya sendiri. Apalagi kita, manusia, yang diberi akal,” kata Susi

Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan). “Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.

Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta. “Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ujarnya mengenang

Ternyata di sana keberuntungan Susi datang. Usaha perikanannya maju pesat. Jika semula dia hanya memperdagangkan ikan dan udang, Susi mulai memasarkan komoditas yang lebih berorientasi ekspor, yaitu lobster. Dia membawa dagangannya sendiri ke Jakarta untuk ditawarkan ke berbagai restoran seafood dan diekspor. Karena permintaan luar negeri sangat besar, untuk menyediakan stok lobster Susi harus berkeliling Indonesia mencari sumber suplai lobster.

Masalah pun timbul, problem justru karena stok sangat banyak, tetapi transportasi, terutama udara, sangat terbatas. Untuk mengirim dengan kapal laut terlalu lama karena lobster bisa terancam busuk atau menurun kualitasnya. Pada saat itulah timbul ide Susi lainnya untuk membeli sebuah pesawat.

Christian von Strombeck, suaminya yang kebetulan pria bule yang berprofesi pilot pesawat carteran asal Jerman mendukungnya. Sebuah pesawat jenis Cessna dia beli. Armada itu sangat membantunya meningkatkan produktivitas perdagangan ikannya. Nilai jual komoditi nelayan di daerah juga naik. “Nelayan bisa mendapatkan nilai tambah. Misalnya saja, lobster di Pulau Mentawai yang tadinya hanya dijual Rp 40 ribu per kilo, setelah itu bisa dinaikkan menjadi Rp 80 ribu per kilo saat itu,” kata Susi.

Kebutuhan akan pesawat pun semakin meningkat seiring dengan ekspor yang terus bertambah. Belakangan, pesawat yang tadinya hanya untuk mengangkut barang dagangan laut dia coba sewakan kepada masyarakat yang ingin menumpang. Susi pun punya angan lainnya membangun landasan di desa-desa nelayan. “Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegasnya.

Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separo. Susi mengaku mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi tidak laku bahkan dianggap gila dengan  orang bank. “Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar, katanya.

Punya pesawat dianggap gila

Baru pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman USD 4,7 juta (sekitar Rp47 miliar) untuk membangun landasan serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh. “Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulabouh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air, dan tenda-tenda,” ungkapnya.

Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga nonpemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh.“Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.

Perkembangan bisnis sewa pesawat terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp47 miliar sekarang tinggal 20 persennya. “Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.

Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui. “Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.

Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran, dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar. “Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp300 juta-Rp400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk angkut perikanan kami,” ujarnya.

Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta. “Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya optimisme

Susi Air tiap bulan mengangkut 35-40 ribu penumpang dengan jumlah penerbangan per hari mencapai 180-200 penerbangan. Jumlah penerbangan per hari Susi Air berada di posisi nomor tiga setelah Lion Air di urutan pertama dan Garuda Indonesia di urutan kedua. Maskapai itu mengawali bisnisnya dengan dua pesawat bekas, lalu pada 2007 menjadi tujuh pesawat, dan saat ini mengoperasikan 47 pesawat dengan usia rata-rata 2,5 tahun.

Susi Air beroperasi di beberapa kota utama di Indonesia antara lain di  Medan, Padang, Jakarta, Kupang, Balikpapan, Ternate, Biak, Timika dan  Jayapura. “Saya adalah wanita Indonesia pertama sebagai bos dengan mempekerjakan orang asing jadi kulinya,” pungkasnya yang disambut tawa dan tepuk tangan. (Sigit)

sumber


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: